AU · Romance

Fix You (Daylight, After Story)

[Pic] ~Fix You~

A Songfic by Dreamcreampiggy.

Daylight, After story

Coldplay

Fix You

Kris (EXO-M)| Jung Rae Ah (OC)

When you try your best, but you don’t succeed

When you get what you want, but not what you need

When you feel so tired, but you can’t sleep

Stuck in reverse

Jam berdentang tiga kali ketika jarum menunjukan angka dua belas malam. Hari berganti dan Kris masih belum dapat terpejam juga. Tangannya mengusap pelan sisi kosong di sebelah kanan tempat tidurnya. Rasa kehilangan yang besar masih menghantui dirinya walaupun hiruk-pikuk kota mengelilingi kehidupan barunya di Seoul.

Setiap malam ia tak pernah bisa memejamkan matanya dan terhanyut dalam mimpi. Karena kenangan dua bulan lalu masih membawa sosok seorang perempuan yang bukan lagi miliknya untuk tertidur di sisinya dan menunggu pagi datang. Ia lelah namun ia tak pernah bisa menghentikan hal itu. Walaupun ia mencoba, ia tak pernah berhasil.

Kris bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati jendela kamar apartemennya yang tak tertutup oleh gorden putih. Matanya memandang kosong ke depan. Memperhatikan lampu-lampu kota yang menyala. Ia ingin menjadi lampu-lampu itu. Bisa terus menyala walaupun hanya di temani kesunyian malam.

Kamar apartemennya yang hampir gelap gulita membantunya memejamkan mata sebentar. Mengingat sesuatu…

Xi Meili. Perempuan yang ia temui di Universitas dua tahun yang lalu. Sudah banyak kenangan yang mereka lewati. Dan semakin hari, ia tersadar bahwa ia menginginkan perempuan itu untuk selalu berada di sisinya sampai kapanpun. Namun, seperti dongeng. Seorang putri pasti mendapatkan pangeran sebagai pendamping hidupnya. Bukan rakyat biasa seperti dirinya. Maka ketika orang tua Meili mengunjungi Kris dan keluarganya lalu meminta mereka berpisah karena orang tua Meili yakin bahwa Meili akan lebih bahagia dengan laki-laki pilihan keluarga Xi, Kris hanya bisa menyetujui hal itu dan meyakinkan dirinya bahwa Meili bukanlah orang yang ia butuhkan. Karena Meili juga  tak membutuhkannya yang tak mempunyai apapun.

Meili menangis, marah bahkan memukul Kris karena tak menyangka pria itu menyetujui perpisahan mereka. Namun kebahagiaan Meili adalah satu-satunya jalan dan alasan agar Kris tetap hidup. Maka, di saat sebuah amplop besar berisi tiket pesawat, paspor dan berkas-berkas yang dikirimkan oleh orang tua Meili pada Kris untuk melanjutkan Studi-nya di Seoul itu di terima oleh Kris, ia segera bersiap-siap. Bersiap untuk meninggalkan Beijing, orang tua dan kehidupannya yang sederhana juga Xi Meili. Terasingkan ke sebuah tempat sebagai hukuman karena berani mencintai seorang putri. Ya. Jika diibaratkan, Xi Meili adalah seorang putri. Bergelimpangan harta kekayaan dan kedudukan. Namun, ketulusan hati Meili dan kebaikannya itulah yang membuat rakyat biasa seperti Kris luluh dan dengan beraninya meminta sang putri untuk menjadi kekasihnya.

Orang tua Meili berbaik hati membiayakan Kris untuk melanjutkan studi-nya di Universitas ternama di Seoul bukan karena orang tua Meili menyayangi Kris. Namun karena orang tua Meili menginginkan kepergian Kris untuk selama-lamanya dari hidup putri semata wayangnya itu.

Kini, Kris terjebak dalam dunianya sendiri. Semua berbalik. Apa yang ia harapkan justru menjadi apa yang ia benci. Dan apa yang ia ingin lupakan berubah menjadi sesuatu yang selalu ia ingat. Setiap saat.

And the tears come streaming down your face

When you lose something you can’t replace

When you love someone, but it goes to waste

Could it be worse?

 

Sebutir air mengalir dari mata Kris. Ini pertama kali baginya menangisi Meili di Seoul. Karena semenjak kedatangannya di Seoul, kesedihannya bisa ia tahan. Orang-orang benar. Cara melupakan yang paling cepat ialah, meninggalkan orang yang ingin kita lupakan itu sejauh-jauhnya. Kris meletakan tangannya pada kaca jendela dan memejamkan mata. Pada saat itu, bulir air mata lain ikut terjatuh, menumpahkan segala kesedihan dan penyesalan yang ia simpan. Ia sungguh kehilangan seorang Xi Meili. Dan itu sangat menyiksanya. Karena Xi Meili tak akan pernah tergantikan oleh siapapun sampai selamanya.

Kris tahu itu sia-sia. Orang yang ia cintai-pun mungkin sudah menemukan sosok yang menggantikan dirinya sendiri. Karena orang yang ia cintai sudah pergi. Menghilang dari hidupnya. Entah sampai kapan. Namun jika ada memang ada yang lebih buruk. Mungkin akan hilang untuk selama-lamanya.

Dalam satu kali putaran, Kris sudah berbalik dan berjalan menuju pintu kamarnya untuk keluar dari tempat itu. Ia mengambil jaketnya dan membuka pintu apartemennya untuk mengambil sesuatu yang tergeletak di pintu apartemennya sore tadi. Ia bisa menerka benda apa yang terdapat dalam amplop beralamatkan Beijing itu, dan kini ia baru siap melihatnya.

KLIK

Pintu terbuka. Kris menunduk dan mengambil surat itu sebelum ia menoleh ke kiri karena merasakan kehadiran sesorang di sampingnya.

Jung Rae Ah berdiri tepat di depan pintu apartemennya yang bersebelahan dengan Kris. Ia tersenyum ramah saat Kris melihatnya walaupun ia sudah lelah setelah bekerja hari ini dan bahkan Kris tak membalas senyumannya. Laki-laki itu justru menatapnya kosong dan saat itu Rae Ah masih bisa melihat bekas air mata di pipinya.

Rae Ah hendak menanyakan kabar Kris yang pernah ia temui di bandara Beijing dua bulan lalu saat ia akan kembali ke Korea setelah berkunjung ke rumah neneknya yang berasal dari Cina. Dan ternyata laki-laki yang juga duduk tepat di sebelahnya saat di pesawat. Rae Ah masih bisa mengingat saat Kris yang ia lihat sebagai laki-laki pemurung membentaknya dengan keras di pesawat karena kebiasaan Rae Ah yang banyak bicara walaupun pada orang yang baru ia kenal.

“Halo. Kau baik-baik saja?”, sapa Rae Ah yang di akhiri dengan pertanyaan. Ia melambaikan tangannya kepada Kris singkat. Ia tahu apa yang terjadi. Karena saat di pesawat, Rae Ah terus melihat Kris mendekap sebuah foto. Foto dirinya dengan perempuan berwajah cantik. Dan saat Rae Ah bertanya siapa perempuan itu, Kris hanya berkata bahwa itu adalah seseorang yang harus ia lupakan.

Rae Ah ingin mengetahui maksud dari seseorang yang harus Kris lupakan, namun ketika pertanyaan itu terlontar, Kris membentaknya. Dan tanpa ia ketahui, ketika sampai di Seoul, pria itu tinggal di apartemen di sampingnya yang sudah kosong selama dua tahun.

Setelah mendengar pertanyaan Rae Ah, Kris yang sudah mendapatkan apa yang ia ambil tadi segera menegakan tubuhnya dan memasuki apartemennya tanpa menjawab pertanyaan Rae Ah.

“Jika ada apapun kau bisa ke apartemenku. Cerita saja jika ada masalah.”, kata Rae Ah dengan bahasa Mandarin pada Kris yang belum terlalu fasih berbahasa Korea sebelum pintu itu benar-benar tertutup.

“~***~”

Kris memasuki apartemennya dan berjalan ke ruang tengah. Terduduk di sebuah karpet dan memandang ke luar pintu kaca menuju balkon yang memperlihatkan pemandangan lampu-lampu Kota Seoul pada malam hari. Tangan Kris bergerak pelan membuka amplop yang berukuran sedang itu lalu mengeluarkan isinya. Kertas berupa undangan berwarna merah muda.

Punggung Kris terlihat bergetar. Isakan mulai terdengar. Wajah Kris pun sudah di basahi oleh air mata yang semakin banyak mengalir dari matanya begitu Kris membaca isi undangan tersebut. Rasanya lebih sakit daripada ketika ia berpisah dengan Meili dua bulan lalu.

We are hoping for your attendance at our wedding party.

Huang Zi Tao

&

Xi Meili

~Sunday, March 14th 2010~

Kris merobek undangan itu dengan penuh amarah dan meremasnya hingga menjadi gumpalan kertas tak berharga. Namun, hanya satu halaman yang Kris biarkan dengan keadaan layak. Halaman yang memuat wajah Meili dengan balutan gaun berwarna putih. Yang selalu Kris impikan akan bersanding dengannya suatu saat nanti. Namun ternyata tidak semua hal akan berjalan sesuai dengan keinginannya. Kris tidak hanya menemukan sebuah undangan. Namun juga surat yang membuat emosinya semakin menjadi-jadi.

Akhirnya kesedihan dan emosi Kris yang sudah memuncak membawanya menggerakan tangannya untuk mengambil vas yang berisi bunga layu di dekatnya.

PRANGGGGG

“Arggghhh!”

Kris melemparkan vas itu dan berteriak sekencang-kencangnya untuk melampiaskan seluruh perasaannya. Ia sudah cukup terasingkan dan kini ia harus mengetahui kenyataan seburuk ini? Mendapati Meili akan menikah.

Jam sudah menunjukan pukul setengah satu pagi. Dan sudah memasuki tanggal 14 dari setengah jam yang lalu. Hanya tinggal menghitung beberapa jam sebelum Kris benar-benar melepas Meili. Kini tangis Kris benar-benar pecah. Ia menenggelamkan kepalanya dan menekuk kakinya. Menangisi Meili untuk kesekian kalinya.

Lights will guide you home

And ignite your bones

And I will try to fix you…

 

Rae Ah yang baru saja terduduk di sofa ruang tengah sehabis bekerja di salah satu restoran cepat saji, terkejut saat mendengar suara pecahan sesuatu dan teriakan keras dari samping apartemennya. Ia tahu suara siapa itu. Kris. Pulang tengah malam sudah menjadi rutinitas bagi Rae Ah ketika bekerja di restoran yang selalu buka selama 24 jam. Dan ketika ia kembali, ia masih bisa mendengar suara TV atau apapun itu dari apartemen Kris hampir setiap hari selama dua bulan. Suara yang menunjukan bahwa tetangganya belum juga tertidur.

Rae Ah bangkit dari sofanya dan berjalan keluar apartemen. Mengetuk pintu di samping apartemennya dan membuka pintu itu ketika tak ada jawaban maupun suara dari dalam.

KLIK

Gelap. Dingin dan sunyi. Rae Ah menyipitkan matanya dan berpegangan pada dinding sekitarnya agar ia bisa berjalan tanpa tersandung sesuatu nanti. Ia sudah sampai pada ruang tengah, dan dari posisinya, ia bisa melihat seorang laki-laki sedang duduk sambil memeluk lututnya di depan pintu kaca yang besar menuju balkon. Hanya cahaya rembulan dan lampu-lampu di bawah sana yang dapat menemaninya.

Rae Ah berjalan mendekat sebelum kakinya menginjak sebuah kertas. Ia mengambil kertas itu dan membuka lipatannya.

Terima kasih sudah melepaskan putri kami dan membiarkannya bahagia dengan orang lain. Tanggal 14 ia akan menikah dan kami berharap anda bisa menjauh dari kehidupannya untuk selama-lamanya.

Rae Ah mengerti apa yang di rasakan Kris saat ini walaupun ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Perlahan-lahan Rae Ah berjalan menuju Kris dan terduduk di sampingnya. Kris sedikit terkejut dan segera mengusap wajahnya untuk membersihkan sisa-sia air mata.

“Aku tahu kau tidak sedang baik-baik saja.”, kata Rae Ah sambil tersenyum dan memandangi kota Seoul yang gemerlap lewat pintu kaca.

“Kenapa kau ada disini?”, tanya Kris ketus dengan suara serak.

“Kenapa kau belum tidur?”, Rae Ah tak menjawab pertanyaan Kris. Ia justru kembali bertanya.

“Tidak bisa.”

“Sayang… Padahal, malam itu gelap dan sunyi. Aku tak menyukainya. Aku lebih menyukai siang hari yang terang dan ramai. Rasanya, ketika matahari terbit, semua bermula dari awal lagi.”

“Aku benci siang hari.”, kata Kris. Ya. Dia dulu juga menyukai siang hari sebelum hal itu terjadi. Perpisahannya. Dan semenjak itu, malamlah yang menemaninya. Karena kegelapan malam membuatnya terasa mati dan tenggelam dari dunia ini.

“Kenapa? Kau sedang bersedih kan? Kau tahu? Ketika bersedih. Semua akan terlihat menyeramkan dan hitam juga gelap. Namun, hanya cahaya yang dapat membawamu kembali. Menghangatkanmu dan semakin lama akhirnya menyembuhkan rasa sakitmu.”

Kris yang tadinya tak menatap Rae Ah kini justru melihatnya. Entah kenapa. Kris merasakan sesuatu yang aneh pada wanita di sampingnya. Kris bersikap sangat acuh dengan perempuan ini namun Rae Ah dengan mudahnya masih berbicara dan menganggapnya ada. Berbeda dengan dunia luar yang ingin menghancurkan dan menjauhkannya.

“Cobalah. Cobalah berteman dengan cahaya. Maka, ia akan menyembuhkanmu dari segala hal. Memberikan awal yang baru dan menemanimu walaupun gelap datang.”

And high up above or down below

When you’re too in love to let it go

But if you never try you’ll never know

Just what you’re worth

 

“Dia akan menikah.”, kata Kris singkat.

“Siapa?”, tanya Rae Ah.

“Orang yang ingin aku lupakan dalam hidupku.”

Mereka berdua terdiam. Kris kembali menunduk dan memberikan kertas berisi foto Meili pada Rae Ah. Membiarkan Rae Ah membuka foto itu dan melihatnya. Cantik. Hanya kata itu yang terbersit di pikiran Rae Ah saat melihat Meili. Sangat cocok dengan Kris. Namun setelah mengingat kembali surat yang pernah ia baca tadi, semua menjadi jelas. Kris kehilangan Meili. Ia mencintai perempuan itu namun ia harus melepasnya. Dan Kris belum mencoba untuk melupakan perempuan ini. Ia hanya tenggelam dalam kesedihan dan menyendiri. Padahal, ia tak akan pernah tahu jika ia belum mencoba. Dan apapun hasilnya itulah yang layak di dapatkan.

Tears stream down your face

I promise you I will learn from my mistakes

Tears stream down your face

And I…

 

“Seberapa besar kau mencintainya?”

“Sangat besar.”

“Kalau begitu. Berhentilah menangisinya. Belajarlah dari hal ini. Kau tak akan pernah bisa melupakannya jika terus menangis.”

“Kau tak tahu apapun.”

“Aku tahu. Aku sangat tahu apa yang akan aku lakukan. Aku akan membiarkanmu menangis malam ini sekeras yang kau bisa untuk melupakannya dan membantumu untuk menyembuhkan lukamu pada gadis itu.”, kata-kata Rae Ah mengalir memasuki telinga Kris. Dan Kris yang sedari tadi menahan tangisnya kini kembali menumpahkan kesedihan itu. Membiarkan Rae Ah melihatnya. Dalam hidupnya, Rae Ah adalah orang pertama yang melihatnya dalam keadaan sangat rapuh seperti ini.

“Terima kasih.”, kata Kris sambil terisak. Dan Rae Ah tanpa sadar juga menitihkan air matanya ketika mendengar suara Kris. Ia mendekatkan dirinya pada Kris dan menarik tubuh pria itu yang kini tengah menunduk dan menagis terisak. Rae Ah memeluk Kris dan membiarkan wajah Kris bersandar pada pundaknya.

“Lights will guide you home.  And ignite your bones. And I will try to fix you…”, sebuah lagu dinyanyikan oleh Rae Ah untuk Kris. Ia mengusap kepala laki-laki itu pelan dan terus bernyayi hingga punggung Kris tak lagi bergetar dan laki-laki itu terlarut dalam tidurnya yang paling nyenyak selama dua bulan ini.

Dan ketika matahari bersinar pagi nanti, Kris tak akan pernah takut kehilangan siapapun lagi. Karena kini sudah ada seseorang yang selalu berada di dekatnya dan menghangatkannya. Walaupun malam datang dan sang mentari tenggelam di ufuk barat. Cahaya matahari itu akan menjelma menjadi seorang perempuan bernama Jung Rae Ah yang akan menemaninya.

Dan ketika sang putri hidup damai selama-lamanya dengan sang pangeran, seorang laki-laki yang berkedudukan rakyat biasa itu terus mengembara dalam kesedihan sampai ia menemukan seorang perempuan biasa yang menghangatkannya dan membawanya pada kebahagiaan. Dan saat kau mendapati orang yang kau cintai tak dapat bersamamu lagi. Yakinlah waktu akan membawa takdirmu yang lain. Mempertemukanmu dengan kebahagiaan sesungguhnya. Karena setiap orang memiliki akhirnya sendiri. Yang akan membawa kebahagiaan pada hati kecilnya walau harus menunggu lama dan di penuhi air mata.

Seperti Kris. Yang kini memeluk kebahagiaan sejatinya yang tak akan pernah pergi kemanapun. Yang ia capai setelah melewati kegelapan malam dan air mata.

Lights will guide you home

And ignite your bones

And I will try to…

 Fix you…

 

Author Note: Halah FF ngaco apalagi ini?? Aduh aku minta maaf sama Eonni Riskakyu. Aku gak tau harus gimana bikin Sequel-nya. Waktu itu Eonni minta panjang. Tapi gak kepikiran. Aku malah kepikiran bikin Songfic lagi. Mudah-mudahan disini ceritanya jelas ya Eonni^^ Terus itu… Maaf karena gak panjang. Hehehe.. Mudah-mudahan Eonni gak kecewa. Tapi sama Readersdeul juga. Mudah-mudahan suka dan gak kecewa. Karena bener-bener kepikiran ini doing. Hahaha… Oh iya. Jangan lupa RCL ya… RCL… Hehehe.. Gomawo sudah baca. Semoga banyak yang comment. #Plakk.

Advertisements

34 thoughts on “Fix You (Daylight, After Story)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s