Waiting for the Clear Skies

[PIC] ~Waiting For The Clear Skies~

Author: Dreamcreampiggy

Length: Oneshot

Genre: Romance, School Life, AU

Rating: Teenager

Cast:-Byun So Hye (Fiction)

-Zhang Yi Xing (EXO-M)

-Xi Lu Han (EXO-M)

-Byun Baek Hyun (EXO-K)

-Oh Se Hun (EXO-K)

“~***~”

So Hye berjalan di lorong sekolahnya dengan senyum yang mengembang. Sebuah surat berwarna merah jambu sudah tergenggam erat di tangannya. Ia tahu ini adalah hal bodoh. Mengirim sebuah surat cinta kepada seorang pria yang belum tentu mengenalnya dengan baik. Tapi ia tahu kesempatan tak akan datang dua kali. Dan ia harus berjuang untuk itu.

Langkah So Hye terhenti begitu melihat papan nama kelas yang tergantung di atas pintu. Ia memasuki kelasnya dan melihat seorang laki-laki yang sedang duduk dikelilingi teman-temannya. Senyum laki-laki itu mengembang. Begitu tampan. So Hye melangkah sekali lagi dan menghembuskan napas yakin. Ia harus menyatakan perasaannya sebelum cintanya pergi seperti dulu.

“~***~”

“Ayo terus!” Kata seorang anak perempuan yang sedang berjongkok memperhatikan burung bangau kertas buatannya bergerak pelan di tengah-tengah genangan air di sebuah taman saat hujan deras sedang turun. Baju putihnya telah kotor dan basah kuyup dengan lumpur dan air, namun anak itu tak menghiraukannya.

BRUSH

Sebuah mobil melintas dengan kencangnya pada genangan tersebut. Anak perempuan itu hanya bisa terdiam ketika melihat tubuhnya yang sudah kotor menjadi sangat kotor. Namun anak itu masih mengambil sisi positif dari kejadian tersebut. Posisinya yang berjongkok di pinggir tidak membuatnya terluka. Andai saja ia berjongkok di tengah mungkin kini ia sudah terlindas.

“Basah yah,” kata anak perempuan itu sambil membersihkan wajahnya dari genangan air kotor. Setelah membersihkan wajahnya, anak itu mencari-cari dimana burung bangaunya itu. Namun tak berapa lama ia harus mendapati burung bangaunya sudah menjadi seonggok kertas tak berbentuk karena terlindas.

“Burung bangau ku! Aniyo! Bagaimana ini? Itu perahu buatan Baekhyun oppa. Ia pasti marah! Huwaa…” anak itu menunduk dan menangis kencang. Ketika menangis anak perempuan itu merasakan tak ada lagi tetes-tetes hujan yang membasahi dirinya. Apakah hujan sudah berhenti? Anak itu kemudian mengangkat wajahnya dan menatap ke atas. Namun bukannya langit mendung yang ia lihat. Yang ia lihat kini hanyalah seorang anak laki-laki yang sedikit gemuk, berkulit putih yang sedang berdiri sambil memegang payung berwarna biru muda. Anak laki-laki itu melepas Head Phone yang ia pakai dan tersenyum.

“………?” tanya anak laki-laki itu. Anak perempuan itu kini bingung. Tak ada yang bisa ia mengerti dari kata-kata anak laki-laki itu. Itu bukan bahasanya. Itu bukan Bahasa Korea.

“Aku tak mengerti,” kata anak perempuan itu sambil menggelengkan kepalanya. Anak laki-laki itu menggaruk rambutnya kemudian berjongkok lalu mengusap wajah anak perempuan itu untuk menghilangkan bekas air matanya yang masih tersisa.

Anak laki-laki itu kemudian menunjuk anak perempuan itu dan mengedikkan bahunya.

“Aku kenapa?” Tanya anak perempuan itu.

“Burung bangau ku hancur terlindas mobil saat bermain tadi,” anak perempuan itu menunjuk-nunjuk bekas perahunya.

Anak laki-laki itu mengerti dan mengeluarkan selipat kertas. Dengan cekatan anak itu menahan payungnya di antara leher dan bahunya lalu melipat kertas itu sedemikian rupa hingga akhirnya menjadi burung bangau dan memberikannya pada anak perempuan di depannya sambil tersenyum.

“Khamsahamnida,” kata anak perempuan itu sambil tersenyum lebar. Anak itu sangat senang. Sangat senang bisa bertemu seorang anak laki-laki baik hati yang memiliki lesung pipi yang dalam ketika tersenyum.

Anak laki-laki itu mengangguk dan tersenyum kembali.

“Oppa! Saranghae!” anak perempuan tadi membentuk sebuah tanda hati yang besar dengan kedua tangannya dan menumpukan jari-jarinya di puncak kepalanya. Apa yang bisa dipikirkan seorang anak kecil ketika melihat seorang anak mengungkapkan cintanya? Tentu saja tertawa dan menganggapnya hanya angin lalu.

“So Hye!” Teriak seorang anak laki-laki. Anak itu berlari-lari menuju anak perempuan yang ternyata bernama So Hye itu.

“Baekhyun Oppa!”

“Anak ini membuatkanku burung bangau yang baru. Burung bangau yang Oppa buat tadi hancur terlindas mobil. Anak ini baik Oppa!” Kata So Hye.

“Kau ini! Apa yang akan Eomma katakan jika melihatmu kotor dan basah kuyup seperti ini! Harusnya kau itu tidak main hujan-hujanan!” Kata anak laki-laki bernama Baek Hyun itu.

“Mianhae.” Ia memalingkan wajahnya ke belakang untuk melihat anak laki-laki tadi, namun nihil. Anak itu sudah berbalik dan berjalan menjauh.

“Kau! Aku akan menjumpaimu suatu saat nanti! Tunggu aku!” Teriak So Hye senang. Ia bersungguh-sungguh ketika mengatakan menyukai anak itu. Karena anak itu adalah cinta pertamanya.

Anak laki-laki tadi berhenti dan berbalik arah melihat So Hye. Ia akan selalu mengingat kata-kata So Hye dan berjanji akan mencari artinya suatu saat nanti. Ia akan. Ia akan selalu mengingat anak perempuan yang memiliki luka goresan di lehernya itu.

“~***~”

So Hye tertawa kecil. Mengapa disaaat seperti ini ia malah mengingat kenangan masa kecilnya? Harusnya ia sudah melupakan kenangan itu. Kenangan dengan cinta pertamanya. Mungkin lucu kedengarannya. Ia menyukai seorang anak kecil yang baru ia temui yang berbicara dengan Bahasa Cina. Namun nyatanya memang begitu. Ia menyukai anak itu. Bahkan So Hye sangat mengharapkan anak itu. Namun ternyata ia salah. Ia tak pernah melihat anak itu lagi sampai sekarang.

So Hye menunggu setiap tahun, ia terkadang membayangkan dan memimpikan anak itu. Namun anak itu tak pernah hadir dalam dunia nyatanya. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia terlalu bingung dengan ini semua. Karena So Hye tak bisa hidup seperti ini terus. Ia harus menemukan cintanya yang baru. Dan sekaranglah. Ia melabuhkan cintanya pada seorang laki-laki berwajah tampan yang kini ada di dalam kelasnya. Oh Sehun.

So Hye pun akhirnya berjalan memasuki kelas dengan mantap sebelum sebuah benturan di pundaknya yang berasal dari seorang perempuan menghentikan langkahnya. Ia melihat perempuan itu berjalan ke arah Sehun dan menyapanya. Mereka terlihat mesra sekali. Senyum Sehun pun terlihat sangat hangat dan penuh kasih sayang pada perempuan itu. Apakah mereka berpacaran?

Kajja Hunnie,” kata anak perempuan itu.

“Aigoo.. Kalian mesra sekali. Hahahaha,” kata seorang perempuan lagi yang tepatnya adalah teman  perempuan yang tadi menabrak So Hye.

“Pasti. Bulan pertama kan memang sedang hangat-hangatnya!” Ledek seorang anak laki-laki lagi di kelasnya yang So Hye kenal. Ia merasa lemas sekarang. Kata-kata yang terdengar di telinganya begitu jelas. Sehun sudah memiliki kekasih. Bahkan sudah satu bulan? Tapi mengapa ia tidak tahu? Apakah ia terlalu takut mengetahuinya dan menutup telinganya rapat-rapat dan menghindari segala hal?

Kini Sehun beserta kekasihnya dan teman-temannya terlihat berjalan keluar kelas. So Hye sempat melihat Sehun berjalan ke arah pintu keluar tempatnya berdiri dan tersenyum padanya. Tapi So Hye tak bisa membalas senyuman Sehun. Rasanya terlalu sakit.

Ia pun berjalan menuju kursinya lalu duduk dan memalingkan wajah ke arah jendela dan memperhatikan awan-awan. Berharap langit berubah mendung dan mendapati seorang anak laki-laki berpayung biru muda menunggunya di bawah sana.

“Hiks.. hiks.. hikss,” So Hye tak menyadari ia sudah terisak. Ia menenggelamkan wajahnya di antara telapak tangan dan menangis sekencang-kencangnya ketika kelas kosong saat ini. Biarlah ia menangis. Biarkan ia menangisi kehidupan cintanya yang selalu berakhir tanpa ada permulaan.

“~***~”

“Ayo cepat! Sudah hujan!”

“Aigooo.. Kenapa akhir-akhir ini hujan terus sih?”

“Tenang saja aku membawa payung kok!”

“Tunggu aku!”

“Aku pulang bersamamu ya?”

Kata tiap kata yang diucapkan setiap orang hanya masuk ke dalam telinga kanan So Hye dan keluar melalui telinga kirinya. Ia terlalu malas untuk mendengarkan percakapan orang-orang yang begitu bising dan terdengar ceria di saat ia merasa sedih dan butuh ketenangan. So Hye mengulurkan tangannya ke depan dan merasakan dinginnya air hujan yang membasahi tangannya. Ia tersenyum miris. So Hye juga lupa membawa payungnya. Bodoh.

Ponselnya bergetar tiba-tiba. Dengan cepat ia segera melihat ponselnya dan mendapati sebuah pesan masuk.

From: Baekhyun Oppa

Kau belum pulang? Aku lapar. Uang kita akan semakin sedikit jika aku gunakan untuk membeli makanan. Kau kan tahu Appa sudah jarang mengirimi kita uang lagi.

So Hye membaca pesan itu dengan malas. Semenjak orang tua-nya bercerai, Ibu-nya tak pernah mau mengabari atau mengunjungi So Hye dan Baekhyun lagi. Ayahnya pun sudah menikah dan tinggal dengan keluarga barunya, Ayahnya hanya mengirimi uang sebulan sekali dan itu pun hanya memprioritaskan sekolah mereka. Bukan kebutuhan mereka, sehingga So Hye dan Bekhyun sering kesulitan untuk makan dan membeli sesuatu.

“~***~”

Dengan tubuh yang basah kuyup So Hye kini sudah berada di dalam bus. Demi Baekhyun ia rela untuk menerjang hujan. Entah kenapa tapi ia tak tega melihat Baekhyun kelaparan di apartemennya. Ia melangkah mencari kursi namun nihil. Semua sudah terisi.

“Permisi,” sebuah suara membuatnya menoleh dan mendapati seorang wanita tua yang baru saja masuk dan ingin berjalan mencari kursi. So Hye berdecak kesal ketika tak ada satupun yang ingin memberikan kursinya pada nenek itu. Tapi ternyata saat si nenek berjalan semakin jauh, seorang laki-laki muda berseragam sekolah yang So Hye yakini sebaya dengan Baekhyun segera berdiri dan memberikan kursinya pada nenek itu. Ia melepas headphone-nya ketika berbicara dengan sang nenek dan berdiri.

So Hye memperhatikan laki-laki itu dengan aneh. Ia menyadari seragam sekolah yang laki-laki itu kenakan persis sama dengan seragam sekolah Baekhyun.

So Hye memegang pegangan di atasnya dengan erat ketika bus berjalan. Sesekali ia melihat laki-laki itu lagi. Ia merasa mengenali wajahnya. Tapi siapa? Ia tidak begitu yakin. So Hye mengalihkan pandangannya ketika laki-laki itu melihat ke arahnya.

Air masih mengalir dari tubuh So Hye yang basah kuyup. Diluar pun masih hujan deras. Apa yang harus ia lakukan? Ia kedinginan. Sungguh.

Sebuah tepukan ringan mendarat di pundaknya. So Hye menolehkan kepalanya dan melihat laki-laki tadi menyodorkan sebuah sapu tangan kecil berwarna putih padanya. So Hye hanya bisa diam menatap laki-laki tadi namun laki-laki tadi segera tersenyum dan mengambil tangan So Hye lalu meletakan handuk itu.

“Ambil saja,” kata laki-laki itu yang kemudian tersenyum lebar memperlihatkan lesung pipinya. So Hye tak bisa berkata apa-apa ketika melihat laki-laki itu tersenyum. Senyum laki-laki itu sangat mirip dengan cinta pertamanya.

Neoui sesanguro.. Yeorin barameultago. Ne gyeoteuro eodieseo wannyago.. Haemarkge mutneun nege bimirira malhaesseo.. Manyang idaero hamkke georeumyeon eodideun cheongugilteni..”

Lagu “Into Your World” terdengar nyaring memenuhi bus. Dengan cepat So Hye segera mengambil ponselnya yang berada di dalam tas dan melihatnya.

“Ne Oppa?” Tanya So Hye yang dengan cepat mengangkat telepon ketika mengetahui Baekhyun menelponnya.

“Kau dimana? Masih di sekolah? Disini hujan deras. Lebih baik jangan pulang,” kata Baekhyun khawatir.

“Aniyo Oppa. Aku sudah di bus. Sebentar lagi mungkin akan sampai. Nanti aku buatkan ramyeon ne?”

“Arasseo. Hati-hati,” kata Baekhyun yang kemudian menutup teleponnya. So Hye dengan cepat segera memasukan ponselnya dan mencari laki-laki tadi untuk memastikan apakah dia orang yang selama ini ia cari?

“Dimana dia?” Tanya So Hye bingung. Ia berjalan ke belakang bus dan melihat ke arah luar jendela yang di basahi oleh air hujan yang mengalir. Laki-laki itu terlihat berjalan pergi dengan payung biru mudanya. So Hye menatap kosong ke depan. Mengingat rupa laki-laki tadi yang begitu tampan.

“~***~”

“Aigoo! Kau basah kuyup!” Kata Baekhyun yang masih memakai seragam sekolahnya. Ia segera melompat dari sofa begitu melihat So Hye memasuki apartemen.

“Ne. Aku akan buatkan Oppa ramyeon.”

“Aniyo. Kau harus mandi dulu!” Katanya dengan nada tinggi. So Hye bisa melihat guratan kesedihan di wajah Baekhyun.

So Hye hanya mengangguk dan segera memasuki kamar mandi.

Setelah orang tua mereka bercerai, Baekhyun dan So Hye pindah dari rumah mereka yang dulu, Ayah mereka memutuskan untuk mengurus Baekhyun dan So Hye, namun ternyata sebuah kehidupan tak berjalan mudah, Ayahnya menemukan wanita lain dan ingin hidup dengan istri dan anak barunya saja. Karena itulah Ayah mereka menyewakan mereka apartemen dan membiarkan mereka hidup sendiri. Akhirnya semenjak itu, Baekhyun yang memang sudah menyebalkan bertambah menyebalkan. Ia terus menerus melarang So Hye melakukan hal apapun yang menurutnya berbahaya.

“Aku sudah cukup kehilangan orang tua. Aku tak ingin kehilangan adikku sendiri.”

Dengan berpakaian lengkap dan masih mengeringkan rambut dengan handuk, So Hye membuka pintu kamar mandi dan melihat Baekhyun yang sedang tertidur di sofa dengan begitu banyak buku yang tercecer. So Hye dan Baekhyun hanya berbeda satu setengah tahun. Sehingga So Hye tak begitu canggung dengan Baekhyun. Satu persatu buku yang tercecer itu So Hye rapihkan dan diletakan pada tempatnya.

Setelah selesai, sesuai dengan janjinya, ia segera membuatkan ramyeon. Satu porsi untuknya, dan satu porsi untuk Baekhyun. ramyeon yang ia buat akhirnya matang juga, ia membawa panci berukuran kecil berwarna emas itu menuju meja ruang tengah dimana Baekhyun tidur dan mengambil dua buah mangkuk lalu mengisinya dengan nasi.

“Oppa… Bangun. Aku sudah buatkan ramyeon untukmu,” kata So Hye sambil menepuk-nepuk pipi Baekhyun pelan. Baekhyun membuka matanya dan mengangguk. So Hye tersenyum lalu mengambil dua pasang sumpit dan sendok lalu memberikan satu untuk Baekhyun. Sambil tersenyum Baekhyun mengambil sumpit dan sendok itu lalu bersiap untuk makan.

“Akhirnya,” katanya tampak senang. So Hye juga tersenyum senang begitu mendengarnya.

“Tadi Eomma menelponku,” kata Baekhyun tiba-tiba. Ia memang masih sibuk memakan ramyeon dan nasinya, namun So Hye bisa melihat matanya yang berkaca-kaca. So Hye segera meletakan mangkuk dan sumpitnya di meja lalu melangkah ke dapur. So Hye memang selalu mengindari segala pembicaraan mengenai Ibunya. Karena mereka beruda membencinya.

“So Hye. Kau dengar aku?” Tanya Baekhyun.

“Kalau Oppa ingin membicarakannya, lebih baik aku tak dengar,” kata So Hye acuh sambil menunangkan jus ke dalam dua gelas dan membawanya kembali ke ruang tengah.

“Bagaimana tadi? Kau berhasil?” Tanya Baekhyun berusaha mengalihkan pembicaraan dengan segera. Namun lagi-lagi Baekhyun membicarakan sesuatu yang tak ingin So Hye dengar ataupun ceritakan.

“Tidak. Sehun ternyata sudah mempunyai kekasih. Sudah satu bulan,” kata So Hye kembali memakan ramyeon sambil menundukan kepalanya.

“Sabarlah… Mungkin memang bukan dia yang terbaik untukmu,” kata Baekhyun berusaha menghibur. So Hye hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Baekhyun yang tadinya duduk di seberang So Hye segera berdiri dan duduk di sebelahnya.

“Kenapa?” Tanya So Hye.

“Temanku. Aku mendapatkan teman baru tadi di sekolah. Ia baru saja tiba dari Cina. Kebetulan juga dia duduk di sampingku. Dan begitu ia mengenalku. Ia sempat menanyakan apakah aku mempunyai seorang adik. Dan aku hanya mengangguk,” kata Baekhyun.

“Siapa namanya?” Tanya So Hye dengan mata yang melebar.

“Xi Luhan,” kata Baekhyun dengan santai.

“Kenapa ia bisa bertanya seperti itu pada Oppa?” So Hye memang senang. Ia berharap orang yang bernama Xi Luhan adalah cinta pertamanya. Dan mungkin saja Xi Luhan itu adalah laki-laki yang ia lihat di bus tadi.

“Entahlah. Ia tak berbicara apa-apa lagi padaku,” kata Baekhyun yang kemudian kembali melanjutkan makannya.

“~***~”

So Hye membiarkan jendela kamarnya terbuka dan menikmati angin dingin malam yang menusuk kulitnya. Sesekali ia menghirup aroma wangi bunga mawar yang tertanam dalam pot yang ia letakan di sisi jendelanya. Dari jendelanya ini, ia bisa melihat pemandangan jalan di bawahnya yang terlihat sudah cukup sepi. Dan dengan mengamati jalanan seperti itulah ia bisa melihat betapa kerasnya hidup ini. Sama seperti kehidupannya.

Bagaimana kehidupan keluarganya yang hancur, dan bagaimana susahnya ia dan Baekhyun dalam menjalani keseharian mereka. Setitik air mata meluncur dari mata So Hye. Membuat aliran sungai kecil di pipinya.

“Aku tak boleh begini terus,” kata So Hye yang kemudian segera menghapus air matanya itu. Ia bangkit dari kursinya yang terletak di depan jendela dan berjalan mengambil sebuah kertas dan kembali ketempatnya semula. Ia melipat kertas itu serapih mungkin dengan perlahan sehingga berbentuk burung bangau dan menaruhnya di dekat pot bunga.

“Aku ingin bertemu lagi denganmu. Aku ingin melihat senyummu lagi. Aku ingin kau memayungiku lagi saat aku kehujanan. Aku merindukanmu,” kata So Hye yang kemudian segera menutup jendelanya dan beranjak menuju tempat tidurnya.

Biarkan malam ini ia tidur lebih cepat. Ia ingin memimpikan lagi anak itu. Memimpikan anak itu yang menjelma menjadi seorang pria tampan yang nantinya menemani So Hye sepanjang hidupnya.

“~***~”

Musim hujan memang selalu tiba pada akhir Bulan Juli sampai Agustus, menandakan akan datangnya musim panas setelah itu. Dan saat musim hujan inilah So Hye selalu mengingat kenangannya yang dulu.

So Hye menatap kosong ke depan. Menatap bulir-bulir air hujan jatuh dengan cepat di kaca jendela bus. Tubuhnya terasa lemas hari ini, namun bagaimanapun juga ia harus tetap bersekolah. So Hye membuka retsleting tasnya dan mengeluarkan sapu tangan putih dari dalamnya. Sapu tangan yang di berikan oleh laki-laki kemarin.

Bus berhenti di halte berikutnya dan So Hye melihat seorang laki-laki memasuki bus itu.

“Itu laki-laki yang kemarin?” Tanya So Hye pada dirinya sendiri. Laki-laki itu memasuki bus dan berjalan kebelakang. Laki-laki itu melepaskan earphone berwarna ungu yang ia pakai dan tersenyum ramah kepada So Hye.

“Tunggu,” kata So Hye. Laki-laki itu sontak segera berhenti dan menoleh.

“Ya?”

“Terima Kasih atas sapu tanganmu kemarin,” kata So Hye sambil mengulurkan sapu tangan itu yang sebenarnya tidak ia gunakan.

“Iya,” kata laki-laki itu singkat. So Hye hanya tersenyum terpaksa dan mengerutkan dahinya lalu kembali duduk di kursinya sendiri. So Hye merasa aneh. Laki-laki itu terkesan angkuh sekali. Ia hanya menjawab satu kata? So Hye diam-diam menatap ke belakang dan melihat laki-laki itu duduk dua kursi di belakangnya, dan sedang memejamkan mata sambil mendengarkan lagu dari earphone-nya.

“~***~”

Akhir-akhir ini, So Hye selalu bertemu dengan laki-laki itu setiap kali ia menaiki bus. Dan memang tak banyak yang mereka bicarakan. Mereka hanya saling tersenyum dan terkadang tak berbicara sama sekali. Namun, di antara kesenggangan itu, So Hye selalu mengamati laki-laki itu. So Hye menduga bahwa laki-laki inilah anak yang dulu ia temui. Dan ia yakin laki-laki itu bernama Xi Luhan.

Lagi-lagi dengan cerobohnya, So Hye lupa membawa payung. Padahal tempat hentiannya sudah dekat. Halte berikutnya sudah terlihat. So Hye segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar. So Hye sempat berhenti di ambang bus karena tak yakin. Ia akan basah kuyup jika langsung berlari karena kebetulan, bus ini berhenti agak jauh sebelum halte.

So Hye turun dari bus dan menyadari tali sepatunya yang lepas. Ia tak mungkin berlari dalam keadaan seperti itu. Pasti ia akan terjatuh. Ia hanya berjalan sedikit menyamping dari bus dan mengikat tali sepatunya. Membiarkan ia basah karena hujan. Apa pedulinya? Lagipula ia memang akan pulang.

So Hye mengerutkan dahinya begitu menyadari sesuatu. Air tak lagi membasahi tubuhnya. Ia menatap ke atas dan terkesiap ketika melihat laki-laki yang selama ini ia temui di bus telah berdiri sambil memayunginya.

“Terima Kasih,” kata So Hye senang. Laki-laki itu mengangguk dan tetap memayungi So Hye sampai ke halte.

“Aku tak tahu harus bagaimana. Tapi terima kasih banyak,” kata So Hye.

“Sama-sama,” kata laki-laki itu sambil tersenyum juga. Lagi-lagi laki-laki itu menjawab dengan sangat singkat. So Hye hanya tersenyum dan duduk sebentar di halte itu. So Hye menatap laki-laki tadi yang kini sedang merapihkan payungnya dan melipat payung itu lalu memasukannya ke dalam tas.

Ponsel laki-laki itu berbunyi dan ia segera mendekatkan ponselnya ke telinga dan berbicara. So Hye mengerutkan dahinya begitu mendengar laki-laki tadi berbicara dengan bahasa Cina. Jangan-jangan? Laki-laki ini benar Xi Luhan dan memang cinta pertamanya.

Neoui sesanguro.. Yeorin barameultago. Ne gyeoteuro eodieseo wannyago.. Haemarkge mutneun nege bimirira malhaesseo.. Manyang idaero hamkke georeumyeon eodideun cheongugilteni..”

Lagu ‘Into Your World’ terdengar nyaring dan So Hye segera mengambil ponselnya dan menyadari Baekhyun menelponnya.

“Ne Oppa?” Tanya So Hye.

“Kau dimana?” Tanya Baekhyun.

“Di halte.”

“Aku akan menjemputmu ya. Aku masih di perjalanan jadi mungkin bisa menjemputmu. Kau di halte mana?”

So Hye segera mengatakan tempat ia kini dan menutup telepon begitu selesai. So Hye baru ingin menanyakan nama laki-laki tadi untuk memastikan, ketika ia melihat laki-laki itu sudah berjalan memasuki bus yang baru saja tiba. Dengan kecewa So Hye menghembuskan napasnya dan menunggu hingga Baekhyun tiba menjemputnya menggunakan motor.

“~***~”

Sabtu ini, So Hye menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Bekerja sebagai pegawai restoran cepat saji. Berbeda dengan Baekhyun yang bekerja di sebuah Supermarket. So Hye yang berdiri di balik meja kasir sedang melayani seorang pelanggan dengan teliti dan tersenyum setelah selesai melayani. Namun, So Hye sedikit kaget ketika melihat pelanggan berikutnya. Ia yakin ia melihat laki-laki yang biasa ia temui di bus. Dan laki-laki itu tepat mengantri di kasirnya.

“A,,ann,yeong Haseyo. Selamat datang,” kata So Hye gugup. Laki-laki itu juga kaget dan tertawa kecil menyadari kebetulan yang aneh ini.

“Anda ingin pesan apa?” Tanya So Hye tetap sopan karena ia menyadari bagaimanapun juga laki-laki ini tetap pelanggannya.

Laki-laki itu memberikan catatan kepada So Hye dan tersenyum. So Hye membaca catatan yang berisi pesanan itu dan segera menyiapkan pesanannya. So Hye menyebutkan harga semua makanan pada laki-laki itu namun bukannya mengeluarkan uang laki-laki itu justru mengerutkan dahi dan mengalihkan pandangannya pada monitor dan mengangguk. Ia mengeluarkan uang pas dan memberikannya pada So Hye.

“Terima Kasih,” Kata So Hye.

“Sama-sama,” kata laki-laki itu yang tadinya ingin menyebutkan nama So Hye tapi tidak jadi karena ia tak menemukan name tag di seragam So Hye. Kalimat laki-laki itu jadi menggantung dan dengan gugup ia tersenyum dan berjalan keluar restoran.

“Ia pasti ingin mengucapkan namaku. Tapi kenapa tidak jadi?” So Hye melihat seragamnya dan menyadari ia lupa mengenakan name tag.

“Aigoo,” desahnya kesal.

“~***~”

So Hye terduduk di taman kota sambil memakan Gimbap yang ia buat di apartemen sebelum berangkat kerja tadi pagi. Demi menghemat ia harus rela memakan Gimbap dengan isian sayuran saja. Tanpa daging. Tapi apapun itu, So Hye tetap mensyukurinya. Ia juga bersyukur hari ini pekerjaannya telah selesai dengan baik dan lancar.

So Hye masih asyik memakan Gimbap-nya sambil memandang ke bawah. Untuk apa ia memandang ke depan? Di depannya pun hanya ada sebuah kursi kosong. Setelah menghabiskan Gimbap-nya, So Hye merapihkan bekalnya dan memasukan bekal itu ke dalam tasnya. Ia hanya mempunyai satu tas dan tas itu selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Isi tas itu juga sangat beragam.

So Hye baru saja akan beranjak berdiri ketika tidak sengaja ia melihat laki-laki yang ia kenali dan akhir-akhir ini selalu hadir dalam hidupnya duduk di kursi taman yang tadinya kosong itu. Laki-laki itu kelihatan memegang sebuah buku dan pensil sambil mengenakan headphone. Laki-laki itu juga terlihat kaget ketika menyadari So Hye.

“Annyeong,” sapa So Hye sambil tersenyum ramah. Laki-laki itu membalas senyum So Hye dan lagi-lagi ia dapat melihat lesung pipi laki-laki itu yang dalam.

“Kau sedang apa disini?” Tanya laki-laki itu sambil melepaskan Head Phone-nya, aksen bahasa yang laki-laki itu katakan terdengar masih kental dengan Bahasa Cina. So Hye tersenyum lalu bangkit berdiri dan duduk di samping laki-laki itu.

“Aku baru saja pulang dari bekerja. Kau?” Tanya So Hye.

Laki-laki itu mengangguk lalu menggerakan buku dan pensil yang ada di genggamannya. So Hye tersenyum begitu melihat salah satu halaman yang penuh dengan not-not lagu yang So Hye tak mengerti.

“Kau suka menciptakan lagu?” Tanya So Hye.

Laki-laki itu mengangguk dan tersenyum. So Hye dan laki-laki itu masih terdiam tak berbicara apapun ketika ia menyadari ponselnya bergetar. So Hye melihat ada pesan masuk dan menghembuskan napas sebal begitu melihat pesan yang menyuruhnya pulang dari Baekhyun.

“Mianhae. Aku duluan,” kata So Hye sambil bangkit dari duduknya dan membungkuk pada laki-laki itu. Ia mencoba menarik tasnya yang ternyata tersangkut di sela-sela kursi taman. Dengan gugup So Hye menarik tas itu dan tanpa ia sadari, tas itu justru jatuh dan melemparkan seluruh isi tas yang kebetulan terbuka. Cerobohnya So Hye.

Ia segera berjongkok dan merapihkan isi tasnya begitu ia menyadari laki-laki tadi segera membantunya memasukan seluruh barang-barangnya lagi. Namun laki-laki itu berhenti ketika ia memungut beberapa burung bangau kertas yang juga tercecer dari tas So Hye.

Laki-laki itu mengerutkan dahinya dan menatap So Hye seksama. Ia membelalak tak percaya begitu melihat sebuah luka goresan yang terdapat pada leher So Hye. Ia tak percaya.

“Terima Kasih sudah membantuku,” kata So Hye sambil mengambil satu buah burung bangau kertas yang masih tersisa dari tangan laki-laki tadi yang masih saja menatap So Hye tak percaya. So Hye membungkuk dan segera pergi. Laki-laki itu merasakan hatinya berdesir. Ia mengingat sesuatu. Ia mengingat luka goresan itu. Luka goresan itu persis sama. Apa mungkin perempuan itu adalah anak kecil yang selama ini ia cari? Ia berusaha mengejar So Hye ketika ia melihat sebuah kertas kecil yang bertuliskan alamat apartemen So Hye. Ia meyakinkan dirinya untuk mencari alamat itu dan melakukan sesuatu sebelum waktunya habis.

“~***~”

 “So Hye,” kata Baekhyun yang menghampiri adiknya itu. So Hye mengalihkan perhatian dari tugas-tugasnya dan segera menatap Baekhyun yang kini berdiri di samping meja belajarnya.

“Wae?” Tanya So Hye.

“Temanku. Kau ingat kan? Temanku yang berasal dari Cina. Ia bilang ia ingin bertemu dan pergi denganmu Hari Minggu nanti,” kata Baekhyun. So Hye sempat mengerutkan keningnya menyadari Baekhyun yang biasanya selalu melarangnya pergi dengan orang lain kini justru malah menawarkan kesempatan pergi untuk dirinya.

“Biasanya Oppa melarangku. Tapi kenapa sekarang aku dibolehkan pergi?” Tanya So Hye.

“Aku tahu kau sudah dewasa. Jadi aku ingin kau lebih bebas. Aku sadar aku sudah terlalu banyak mengekangmu sekarang,” kata Baekhyun merasa bersalah pada So Hye. So Hye mengangguk lalu melangkah menuju Baekhyun dan memeluknya.

“Yak! So Hye! Kau kenapa?” Tanya Baekhyun kaget. Ini adalah kali pertama So Hye berani memeluknya.

“Gomawo Oppa,” kata So Hye sambil menenggelamkan wajahnya di dada Baekhyun.

“Setidaknya walau orang tua ku sudah membuangku. Aku masih mempunyai Oppa sepertimu,” kata So Hye lagi. Suaranya terdengar bergetar dan serak.

“Yak. Bukan hanya kau yang di buang. Aku juga. Orang tua kita sama So Hye. Dan karena itu aku tak ingin adikku satu-satunya ini merasa sendirian,” kata Baekhyun sambil mengusap kepala So Hye.

 “~***~”

So Hye terduduk di kursi taman, tempat ia beristirahat selepas bekerja kemarin. Hari ini adalah hari dimana ia akan bertemu dengan laki-laki bernama Xi Luhan. Laki-laki yang So Hye harapkan sebagai cinta pertamanya. Sisi kecil hati So Hye berharap laki-laki itu adalah laki-laki yang biasa ia temui di bus. Tapi entahlah. So Hye tak ingin berharap terlalu banyak dan nantinya akan kecewa.

Baekhyun tadi sudah memberikannya nomor ponsel laki-laki bernama Xi Luhan itu dan mendapatkan kabar bahwa Luhan akan datang sebentar lagi. Ia bilang dirinya terjebak kemacetan di jalan. So Hye hanya bisa meng-iya-kan karena dirinya yang belum mengenal laki-laki itu.

So Hye beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pelan menyusuri taman. Ia melihat begitu banyak orang beraktivitas disana. So Hye masih berjalan-jalan pelan begitu ia merasakan ponselnya berdering dan mendapati sebuah telepon dari laki-laki bernama Xi Luhan.

“Yoboseyo,” sapanya.

“Yoboseyo So Hye-ssi. Bisa aku tahu kau ada dimana? Aku sudah sampai,” kata laki-laki bernama Luhan itu. So Hye segera memberi tahu tempatnya sekarang dan mendefinisikan ciri-cirinya pada Luhan.

Sembari menunggu So Hye memperhatikan sedikit suasana di taman itu sekali lagi dan ia terkesiap ketika melihat laki-laki berjalan ke arahnya. Laki-laki itu berambut pirang, berwajah ceria dan tampan, kulitnya juga putih.

“Kau So Hye?” Tanya laki-laki itu.

“Benar. Dan kau.. Xi Luhan?” Tanya So Hye sambil tersenyum ramah. Laki-laki itu mengangguk membenarkan dirinya adalah Luhan. So Hye tersenyum senang walau ia agak kecewa. Ternyata laki-laki yang ia temui di Bus itu bukanlah Xi Luhan.

So Hye dan Luhan segera duduk di kursi taman dan berbicara juga memperkenalkan diri mereka secara resmi. Mereka mulai bertukar cerita satu sama lain dan berjalan-jalan ke sekeliling taman ketika So Hye menyadari sesuatu.

“Luhan-ssi. Bisa aku tahu kenapa kau ingin bertemu denganku?” Tanya So Hye. Luhan hanya tersenyum.

“Aku tak sengaja menanyakan pada Baekhyun saat itu. Karena aku pernah mendengar tentang laki-laki bernama sama dengannya. Dan laki-laki itu mempunyai adik perempuan. Jadi aku mencoba bertanya padanya,” kata Luhan. So Hye tersenyum senang dan bernapas lega. Akhirnya ia menemukan cinta pertamanya.

“Benarkah? Lalu darimana Luhan-ssi bisa mendengar tentang Kakakku?” Tanya So Hye.

“Aku mendengarnya dari sepupuku,” kata Luhan. So Hye mengerutkan dahinya dan mulai melakukan sesuatu untuk mencari tahu tentang Luhan.

“Luhan-ssi. Apa kau pernah tinggal di Korea sebelumnya? Bahasa Korea-mu sangat bagus,” kata So Hye.

“Benar. Sewaktu kecil aku tinggal disini,” kata Luhan lagi. So Hye kembali tersenyum dan tak ragu lagi. Laki-laki ini pastilah cinta pertamanya.

“Lalu, apa Luhan-ssi masih mengingat seorang anak perempuan yang bermain burung bangau dari kertas di tengah hujan dulu?” Tanya So Hye.

Luhan berhenti melangkah dan menatap So Hye lamat-lamat.

“Burung bangau kertas? Anak perempuan? Ceritamu sama seperti,” kata Luhan terhenti.

“Seperti apa?” Tanya So Hye.

“Seperti cerita Yi Xing. Ia sepupu ku. Ia pernah bercerita bahwa ia pernah bertemu dengan anak perempuan yang bermain di tengah-tengah hujan dan menangis karena burung bangau kertasnya rusak. Lalu ia membuatkan yang baru kepada anak itu, dan saat itu juga ia mengetahui anak itu mengatakan ia menyukai Yi Xing,” kata Luhan. So Hye menatap Luhan dengan berkaca-kaca.

“Be,,be,,nar,,kah?” Tanya So Hye.

“Benar. Dari sepupu ku itu juga aku mengetahui tentang laki-laki bernama Baekhyun. Ia memang masih tidak fasih berbahasa Korea dari kecil sampai sekarang, jadi ia mengatakan pernah mendengar anak perempuan itu berteriak memanggil Oppa-nya dengan nama Baekhyun. Karena itu aku menanyakan tentang mu. Dan aku tak menyangka kau adalah anak perempuan itu,” kata Luhan sambil tersenyum.

“Bisa aku tahu bagaimana Yi Xing itu?” Tanya So Hye. Matanya terlihat jelas masih berkaca-kaca.

“Tingginya tak terlalu berbeda denganku. Ia berambut hitam, mempunyai lesung pipi, bersuara lembut, lalu ia suka mengenakan headphone ataupun earphone,” kata Luhan. Lagi-lagi So Hye merasakan hatinya berdesir. Apa mungkin Yi Xing itu adalah laki-laki yang selama ini ia jumpai di bus?

“Apa ia selalu menaiki bus ketika pergi atau pulang kesekolah? Apa ia selalu membawa sebuah payung berwarna biru muda?” Tanya So Hye lagi. Kali ini terlihat jelas air mata mengalir dari ujung mata So Hye. Luhan sempat kebingungan saat melihat So Hye menangis.

“Iya. Berbeda denganku yang menggunakan motor, ia selalu berangkat dan pulang dengan bus. Ia juga mempunyai payung berwarna biru muda yang ia simpan sejak kecil,” kata Luhan.

“Luhan-ssi. Aku mohon. Aku ingin bertemu dengan sepupumu itu. Tolong.” Kata So Hye.

“Yi Xing? Tapi hari ini juga ia akan kembali ke Cina. Nenek-nya sakit sehingga ia kembali lagi ke Cina,” kata Luhan dengan panik. Ia memegang pundak So Hye yang sewaktu-waktu bisa saja terjatuh.

“Apa ia akan kembali?” Tanya So Hye. Ia sudah tak dapat lagi menahan tangisnya. Ia tak percaya bisa menemukan cinta pertamanya lagi.

“Aku tak tahu. Tapi sepertinya tidak. Yi Xing sepertinya akan tinggal di Cina untuk mengurus neneknya,” kata Luhan.

Dan saat itu juga So Hye terjatuh. Ia menangis kencang tak menghiraukan banyaknya orang-orang disana. Luhan segera membantunya berdiri dan akan membawanya pulang kembali ke apartemen Baekhyun secepat yang ia bisa.

“~***~”

So Hye berjalan dengan lesu menuju Apartemennya. Ia tak bisa melakukan apapun. Ia ingin bertemu Yi Xing walau itu untuk terakhir kalinya. So Hye baru akan membuka gagang pintu ketika pintu itu sudah terbuka dan Yi Xing terlihat berdiri di hadapan So Hye. Tatapan mereka beradu tapi itu semua pecah ketika ponsel Yi Xing berdering. Ia haru segera pergi. Pesawatnya akan lepas landas satu jam lagi. Dengan berat hati Yi Xing meninggalkan So Hye yang masih berdiri kaku di depan pintu Apartemennya. Baekhyun terlihat panik begitu melihat So Hye dan berniat menariknya masuk.

Namun dengan cepat So Hye segera berlari menyusul Yi Xing yang ternyata sudah masuk ke dalam lift. So Hye terus menekan tombol lift namun nihil. Ia berlari menuju tangga darurat dan berlari terus menuju lantai satu dari lantai apartemennya yang terletak di lantai dua belas. Ia berlari terus namun ia tak menemukan Yi Xing dimanapun.

So Hye merasakan kakinya sakit dan ia terjatuh di depan pintu masuk utama apartemen. Akhirnya ia harus membiarkan cinta pertamanya pergi lagi seperti dulu. Dan bertepatan dengan itu, hujan turun dengan deras. Sayangnya sudah tak akan ada lagi orang yang memayunginya dan membuatkannya burung bangau dari kertas lagi.

“~***~”

“Kau gila? Kau berlari turun dari lantai 12? Demi Yi Xing?” Tanya Baekhyun.

“Kenapa Oppa tak bilang bahwa Oppa juga mengenalnya? Kenapa Oppa tak bilang ia juga bersekolah di sekolah yang sama dengan Oppa?” Kata So Hye yang masih duduk di Sofa dengan kaki yang memerah dan susah untuk ia gerakan. Air mata masih terus membasahi pipi So Hye.

“Kau? Kau tak pernah bertanya apapun padaku So Hye,” kata Baekhyun sambil mengompres kaki So Hye dengan air hangat.

“Tadi apa yang ia katakan dengan Oppa?” Tanya So Hye.

“Ia menceritakan semuanya lalu memberikan ini. Katanya ini untukmu. Ia juga bilang, ia mengetahui alamat apartemen kita saat tidak sengaja menemukan kertas berisi alamat yang terjatuh dari tas mu,” kata Baekhyun sambil memberikan kotak yang berukuran cukup besar kepada So Hye.

So Hye mengambil kotak itu dan membukanya perlahan. Air matanya kembali mengalir dengan deras saat ia melihat sebuah payung lipat berwarna biru muda yang Yi Xing pernah gunakan untuk memayunginya sewaktu kecil dan sewaktu mereka bertemu lagi saat di Bus. So Hye juga menemukan sebuah burung bangau kertas yang dilipat dengan begitu rapih. So Hye mengambil sebuah kertas lipat dari dalam kotak itu dan membacanya.

Akhirnya aku menemukanmu, aku memang belum bisa berbahasa korea dengan baik, jadi, aku hanya bisa menemukanmu karena melihat luka goresan dan burung bangau saat kita bertemu kemarin. Aku harap kita bisa bertemu lagi. Byun So Hye.

So Hye tersenyum dan mengusap luka pada lehernya yang ia selalu benci. Ia mendapatkan luka itu karena Ibunya tak sengaja mendorong dirinya sewaktu kecil karena Ibunya tak dapat menahan emosinya. Dan tanpa ia sadari justru luka itulah yang mempertemukannya kembali dengan Cinta pertamanya.

“Ya, kita pasti akan bertemu lagi.”

“~***~”

4 Tahun kemudian…

So Hye berjongkok di pinggir genangan air sambil membiarkan burung bangau kertasnya bergerak mengikuti aliran air. Titik-titik hujan terlihat mulai turun membasahinya. Ia hanya tersenyum. Ini adalah musim hujan ke-empatnya setelah Yi Xing pergi. Dan ia tak pernah melihat Yi Xing lagi. Ia hanya mendengar kabarnya dari Luhan. Dan setiap akhir musim hujan, So Hye selalu saja pergi ke taman tempat ia dulu bermain saat masih kecil.

SAAAAAA

Hujan sudah turun dengan deras. So hye masih berjongkok dan justru menatap kosong ke depan. Ia menatap kosong dan berharap bisa menemui Yi Xing. Karena semenjak bertemu dengan Yi Xing di bus, Ia bisa melupakan seorang Oh Sehun dan kembali pada cinta pertamanya.

Tanpa So Hye sadari sebuah mobil melintas di depan genangan air dan..

BRUSHH

Namun, bukanlah air yang So Hye dapatkan melainkan ia melihat sebuah payung berwarna merah muda di hadapannya, melindunginya dari cimpratan genangan air.

“Burung bangaumu pasti sudah hancur. Aku bawakan yang baru untukmu,” kata sebuah suara lembut di sampingnya. Hati So Hye berdesir saat mendengar suara itu. Ia memberanikan diri menolehkan kepalanya dan mendapati seorang Zhang Yi Xing berjongkok di sampinya sambil tersenyum.

Yi Xing tersenyum lebar sambil membersihkan air mata yang mulai mengalir pada pipi So Hye. Yi Xing mendekatkan tubuhnya pada So Hye dan merangkul gadis itu.

“Kau bilang akan menjumpaiku suatu saat nanti dan menyuruhku menunggu kan? Kenapa kau yang menunggu disini?” Tanya Yi Xing pada So Hye. So Hye hanya bisa menundukan kepalanya dan menangis bahagia.

Yi Xing segera memeluk So Hye dan membiarkan gadis itu bersandar pada dadanya.

“Dulu kau bilang.. Oppa Saranghae kan? Sekarang biar aku yang bilang,” kata Yi Xing menggantungkan kalimatnya. So Hye mengangkat wajahnya dan menatap Yi Xing.

“Byun So Hye, Nado Saranghaeyo.” Kata Yi Xing yang kemudian mengecup kening So Hye lama dan menjatuhkan payungnya.

Air hujan tak lagi membasahi mereka berdua. Awan yang tadinya mendung kini bergeser ditiup angin, menunjukan sang surya yang bersinar indah di sekeliling awan putih dan langit biru.

“Kau. Bagaimana bisa Berbahasa Korea dengan baik sekarang?” Tanya So Hye sambil tertawa kecil dan menghapus air matanya.

“Aku belajar. Aku belajar dari Luhan demi seorang sepertimu,” kata Yi Xing tersenyum.

“Neo. Aish,” kata So Hye sambil tertawa. Yi Xing merangkul So Hye berdiri dan berjalan bersama meninggalkan taman itu.

“Ayo kita bertemu Oppa-mu. Aku ingin melamarmu sekarang juga,” kata Yi Xing.

“Aniyo! Aku belum siap!” Kata So Hye sambil tertawa.

Mereka berjalan berdua sambil bergandengan tangan. Tak ingin saling berpisah lagi. Biarkan saja orang lain berkata apa. Mereka akan berjalan bersama. Karena sudah tak ada lagi hujan dan langit mendung. Mereka sudah menunggu sangat lama di bawah hujan dan kini, hanya langit cerah dan matahari yang hangat yang akan menemani sisa hidup mereka.

~KKEUT~

 

 

Advertisements

14 thoughts on “Waiting for the Clear Skies

  1. riskakyu says:

    I really love ur ff…and now you use yixing as the cast..how happy im, my bias as main cast here…
    Before Kris and now yixing my lovely boy..kkk
    I love the story,its feel so touch,when we just waited for first love for long time and finally found it then… aahhh…yixing you freaking my lovely boy.thanx for author who make u to be like this..kkk
    I hope next fanfict you will make Kris in One shoot,but long story..*slap

    Keep writing author!

    • Detanalia says:

      Really? I don’t know there’s person who love my fanfic out there.. I think it too. First love is kind a sweet moment hehehe.. I really frustrated when there’s no one gave comment and finally you’re be the first! Huwaa.. Thank you so much for read and comment^^ I’ll try my best for next Oneshot^^

      • riskakyu says:

        I always love ur story fanfict as long i read before..
        Bcs every week always checked if u posted new fanfict here…kkk
        And i found this..tadaaa..yixing was the cast..yuhuuuu…
        Hmmm…still wait for saranghaeyo ahjussi..
        Hmmm..is it will be next part like previously
        Just posted every one month?

      • Detanalia says:

        I feel so happy^^ Of course there will be next part for Saranghaeyo Ahjussi till it end^^ But sometimes I feel too lazy to finish it.. Hahaha forgive me (^^)V Yeah, I always try to post fanfic every month.. Just wait and I feel glad to has a weekly reader like you^^ Thank You so much Chingu~

  2. zuuvie says:

    wah,
    so sweet bgt….
    sampe senyum2 sendiri bacanya.. 🙂

    akhir’a penderitaan terganti dgn kbahagiaan…
    keren bgt mreka berdua,
    jatuh cinta dr kcil sampe dewasa,
    jd mkin cinta sama lay *lho?

    btw,
    slam knal author,
    sbnarnya aku udh bca ff author yg saranghaeyo ahjussi dr awal,
    tp ga pernah ninggalin jejak,
    mian ya,
    hehe
    d tnggu ya klanjutan’a.

    semangat wat nulis ff nya. n_n
    fighting!!!

    • Detanalia says:

      Iya Author juga makin cinta sama Lay hehehe.. Salam kenal juga Chingu^^ Ga papa kok makasi juga udah baca Saranghaeyo Ahjussi.. Author seneng deh.. Chapter selanjutnya Author usahakan cepat^^ Gomawo ya sudah baca dan comment^^

  3. shin hyun ae says:

    Wahhh!!!
    So sweet!! Kereeenn!!
    lay oppa jd pndiam gtu jadi keren bgt… Baekhyun oppa care bgt… Jd kepengn pux oppa kayk bacoon oppa… Keep writing yah… ^^v

  4. phiwzz says:

    ini bener2 indah!! happy ending story ^^

    aku pikir bakal berhenti di kepergian nya Yi Xing, udah nyesek aja tuh mikir bakal sad ending
    ternyata Oh (Sehun) ternyata, ada epilog nya toh -4th kemudian-

    ada rencana bikin sequel ga thor?
    ga tau kenapa setiap baca ff romance main cast nya Yi Xing, bener2 kerasa romance n happy ending nya, sama kaya klo main cast nya Suho appa ^^
    *dasar SuLay couple, romantis ^^v*

    tapi emank cape sih, nunggu 1 tahun/2 tahun aja cape apa lagi ini, bertahun2, tapi terbayarkan juga dengan akhir yang bahagia
    oops! kaya nya bukan akhir juga ya? apa bakal ada sequel?? hehe

    • Detanalia says:

      Hehehe antara iya atau engga si Eonni… Soalnya gak biasa bikin Sequel. Wkwkwkwk… Mungkin akan baru lagi. Atau mungkin bisa nyeritain Baekhyun-nya atau Luhan-nya wkwkwk #Plakk Gomawo sudah baca dan comment Eonni^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s